Rabu, 06 Agustus 2014

Sudah Penuh?

Sudah Penuh?

Pernahkah kalian mendengarkan cerita ini? (dengan sedikit perubahan)

Seorang profesor membawa beberapa buah kotak, sebuah ember dan sebotol kopi. Dia membawanya masuk ke kelasnya dan memberikan pelajaran kepada siswanya. Dia meletakkan embernya ke atas meja dan membuka kotak pertama yang berisi batu batuan, kemudian dia memasukan bebatuan itu ke dalam ember
.
Profesor bertanya, "Apakah ember ini sudah penuh?"
Muridnya menjawab, "Sudah Pak!"


Kemudian dia membukan kotak kedua yang berisi kerikil dan kemudian memasukkan ke dalam ember.

Profesor bertanya, "Apakah ember ini sudah penuh?"
Muridnya menjawab, "Sudah Pak!"

Kemudian dia membuka kotak yang lain lagi yang berisi pasir. Seperti sebelumnya, dia memasukkan pasir itu ke dalam ember.

DIa bertanya lagi, "Apakah ember ini sudah penuh?"
Muridnya menjawab, "Sudah Pak!"

Kemudian Profesornya menuangkan 2 cangkir kopi kedalam ember.
"Apakah ember ini sudah penuh?"
"Sudah Pak!"

"Jadi nak, jika kalian mengisi ember ini dengan kerikil, maka bebatuan tadi tidak akan masuk. begitu juga dengan pasir. Jika kalian mengisi ember ini dengan pasir, maka bebatuan dan kerikil pun tidak akan bisa masuk, tetapi jika kalian masukkan bebatuan dulu, kemudian kerikil, dan setelahnya pasir, maka semuanya bisa masuk.

Sama halnya dengan hidup ini. Bayangkan ember itu adalah hidup kita, batu batuan itu hal hal penting dalam hidup kita, seperti waktu untuk keluarga, waktu untuk diri sendiri (kesehatan, istirahat, makan, tidur, olah raga), dan waktu untuk ibadah. Bayangkan kerikil tadi adalah waktu untuk kerja dan waktu untuk sahabat. Dan pasir adalah waktu untuk hal hal kecil, seperti senang-senang.

Jika kalian mengisi hidup dengan hanya dengan bekerja, mungkin senang senang masih bisa kalian nikmati, tapi kalian akan kehilangan waktu untuk keluarga. keluarga adalah bagian terpenting yang mengisi hidup kalian, jangan sampai kalian kehilangan keluarga kalian hanya untuk bekerja. Begitupun dengan kesehatan, jika kalian tidak sehat, maka kalian juga nanti tidak bisa bekerja."

Tiba tiba ada murid yang bertanya, "Lalu apa arti kopi tadi?"

Dengan senyum bangganya, profesor tadi menjawab, "Selalu ada waktu untuk menikmati satu dua gelas kopi di sela-sela susahnya kehidupan."

Tidak ada komentar:

Posting Komentar