Rabu, 06 Agustus 2014

Mengundi Nasib

Mengundi Nasib

Aku ga suka yang namanya mengadu nasib, karena kadang kita sudah memiliki sesuatu yang baik untuk kita sedangkan kita tidak mengetahuinya, tetapi kita malah menukarkannya dengan sesuatu yang tidak pasti.

Tidak pasti apakah kita akan mendapatkannya, tidak pasti apakah hal itu berguna bagi kita, dan tidak pasti apakah hal itu halal. Namanya adalah Judi. Dan dia hanya memiliki anak yang namanya Menang dan Kalah. Orang bisa belajar banyak dari Kalah dan sedikit dari Menang, tetapi tidak akan ada buah manis yang bisa dipetik kecuali hanya sedikit sekali.


Uang yang seharusnya bisa kita simpan untuk keperluan kita selanjutnya, tetapi malah kita biarkan uang itu hilang tak berbekas kecuali rasa kecewa atau rasa tidak nyaman di hati.

Kalau kita punya uang, kita akan bingung untuk mencari lawan bermain. Sedangkan kalau kita tidak punya uang, kita akan bingung mencari uang.

Tetapi ternyata ada mengadu nasib yang baik dan harus kita lakukan. Namanya adalah Kesempatan. Anaknya adalah Berhasil dan Gagal. Sama seperti sebelumnya, orang bisa belajar banyak dari Gagal dan sedikit belajar dari Berhasil.

Merubah nasib, bukan menukar nasib. Hidup susah, jenuh akan kemiskinan. Punya kesempatan untuk belajar di bangku sekolah ataupun di bangku kuliah dan langsung mengambilnya dengan harapan dapat merubah nasib, meskipun di depan dia belum jelas akan langkah selanjutnya, ataupun apakah ada kesempatan kerja.

Tetapi lain dari Judi, Kesempatan hanya memberikan pilihan ambil atau tidak. Kalau kau ambil, kemungkinan untuk berubah menjadi lebih baik pasti ada, sedangkan jika tidak kau ambil, kemungkinannya hanyalah tetap sama saja atau lebih buruk.

Itulah bedanya 2 perbuatan yang lahir dari bapak yang sama "Mengadu Nasib" yaitu Judi dan Kesempatan.

Semoga kalian bisa membedakannya, dan tidak salah memilih antara Judi dan Kesempatan. Apalagi jangan sampai terjangkit dengan rayuan Judi yang manis. Dia hanya bisa "Speak".

Tidak ada komentar:

Posting Komentar